Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Pojok Hablay di Multiply

no longer my hotel trip

Blog EntryMay 1, '11 6:06 PM
for everyone
Setahun lalu, aku punya kesempatan untuk melihat pawai perayaan hari buruh di Paris. Aku hanya berkesempatan melihatnya dari jauh, di bagian akhir pawai tersebut. Polisi berjaga di beberapa tempat. Tetapi tidak ada kesan seram, lebih terasa sebagai sebuah perayaan.

Tahun ini, aku berusaha menghindari perayaan yang berlangsung di daerah Bundaran HI. Demo. Begitulah kalimat yang dipakai oleh sejumlah kicauan di twitter. Tidak ada keinginan untuk melihat lebih dekat dan yang terpikir adalah bagaimana menghindari kemacetan yang terjadi.

Aku sendiri adalah buruh. Pekerja. Hanya saja, aku cukup beruntung. Sekalipun aku pekerja kontrak, aku memperoleh imbalan yang layak, jaminan kesehatan yang lebih dari cukup dan kepuasan batin dari apa yang aku lakukan di dalam pekerjaanku.

Dalam hal itu, aku minoritas. Sebagian besar pekerja di negeri ini harus menelan ketidakadilan dengan jenis kontrak dan imbalan yang mereka miliki. Setiap saat, ada begitu banyak calon pekerja yang siap mengisi posisi kosong manapun. 

Aku pernah bekerja di sebuah radio yang lebih sering mangkir membayar gaji penyiar dan kalau pun digaji maka angka yang diberikan adalah angka yang jauh dari apa yang seharusnya diberikan. Pemilik dengan santai berkata,"lebih mudah cari penyiar baru, ketimbang cari pembantu," kepada penyiar yang protes dan mengancam keluar dan tidak bekerja lagi.

Pahit. 

Bagaimana dengan kamu? Ikut serta dalam pawai perayaan atau menghindari karena takut macet? ;)


Ini adalah foto yang aku ambil tahun lalu. Buat yang mengerti Bahasa Perancis, silahkan artikan sendiri. :) Dan ini adalah tulisanku yang lain, 4 tahun lalu, untuk media bersama. http://narasimelly.wordpress.com/2011/05/01/kerja-tak-paksa/

Blog EntryApr 24, '11 11:53 PM
for everyone

Waktu kecil, hari ini identik dengan telur. Mewarnai telur dengan kreativitas masing-masing. Mencari telor yang sudah disembunyikan, terkadang begitu banyak sampai harus disimpan di rok, tidak jarang, telor-telor itu sulit sekali ditemukan. Aku ingat, mencoba memakan salah satu telor itu. Dalamnya tidak lagi putih. Ada sedikit sisa warna spidol yang dipakai menghias telor didalamnya. Herannya, aku masih makan dengan enak telor-telor itu.

Sekarang-sekarang ini, Paskah identik dengan libur panjang. Mulai dari Jumat Agung sampai Hari Paskah. Sebetulnya, disini orang lebih banyak berpikir bahwa hari Jumat itu adalah Paskah. Karena disini, kami adalah minoritas. Perayaan-perayaan hari besar seperti ini hanya dikenal jika merupakan tanggal berwarna merah yang bukan terjadi di Hari Minggu. Paskah selalu terjadi di hari Minggu. Inilah rangkaian hari libur yang setiap tahun berlangsung pada tanggal yang berbeda-beda tetapi selalu jatuh pada hari yang sama.

Dunia lebih mengenal Natal ketimbang Paskah. Setidaknya, dilihat dari gencarnya pertokoan menjadikan Natal tema belanja di setiap bulan Desember. Disini, gaung Paskah tidak terlalu kencang terdengar di pertokoan. Kecuali di negara-negara dengan mayoritas penduduk merayakan Paskah.

Lantas, apa artinya? Apakah ini hanya sebuah hari raya yang kalah gaung dengan Natal?

Tidak ada kompetisi hari raya. Tentu saja. Tetapi, tanpa Paskah, sia-sialah keyakinanku.

DIA lahir di Hari Natal. Mati di Jumat Agung. Bangkit di Hari Paskah.

Aku begitu bersuka merayakan Natal. Kado Natal. Kue Natal. Makanan Natal. Kemeriahan yang luar biasa. Sangat berbeda dengan Paskah. Tidak ada lagi kebaktian subuh yang identik aku lakukan pada saat Paskah. Bangun jam 4 pagi untuk berada di gereja jam 5 pagi. Tidak ada lagi puasa menjelang Paskah. Tidak ada renungan panjang yang aku lakukan menjelang Paskah. Aku menerimanya sebagai kesempatan untuk rehat panjang dari pekerjaan sehari-hari.

Sedih sekali.

Tanpa kebangkitanNya, percumalah semua yang aku yakini.

Paskah memang berlangsung sepi tanpa kemeriahan a la Natal. Tetapi sungguh, dalam hening ini aku meneteskan air mata. Aku bersyukur atas hidup yang telah diberikanNya. Aku bersyukur bahwa DIA telah lahir untuk mati untuk aku dan juga untukmu. Sungguh. Aku bersyukur karena DIA bangkit.

Inilah cerita Natal yang sesungguhnya.

Selamat Paskah, video di atas adalah petikan lagu "Born To Die" yang dibawakan Shawn & Shawn

Blog EntryApr 19, '11 8:30 PM
for everyone
Aku harus menuliskan lima kata dalam Bahasa Inggris ini. Buat aku, kalimat ini sangat lekat dengan sosok salah satu atasanku. Dia bekerja bersama dengan aku dalam waktu sangat singkat. Tiga bulan saja. Kalimat ini yang paling membekas di benakku.

That's why we are here.

Itu yang diungkapkannya ketika kami menghadapi sejumlah masalah. Sebetulnya, pekerjaan apa sih yang tidak punya masalah. Bahkan liburan pun punya masalah sendiri (biasanya masalah uang yang kurang atau waktu liburan yang terlalu sedikit sih). Jadi, setiap hari, selalu ada masalah baru atau masalah lama muncul di depan meja menunggu untuk jalan keluar.

Tidak sekali dua kali, masalah itu muncul bukan karena apa yang kita lakukan tetapi lebih ke apa yang dilakukan oleh pihak ketiga. Masalah juga bisa muncul karena keputusan yang dibuat oleh pihak-pihak yang bahkan sudah tidak lagi terlibat di dalam pekerjaan itu. Apapun itu, adalah tugas kami untuk menyelesaikan masalah yang muncul, satu demi satu.

Ya, karena itulah kenapa saya dan teman-teman satu tim ada di kantor ini. Bekerja memastikan rencana bukan sekedar rencana. Bekerja memastikan sesedikit mungkin masalah, dan kalaupun ada (percayalah, selalu ada masalah di setiap pekerjaan) selesaikanlah masalah itu secepat dan sebisa mungkin.

Soal siapa yang sebetulnya membuat masalah itu muncul, cukuplah menjadi olahraga ngomel-ngomel di waktu senggang. 
Kamu sendiri bagaimana? Kalau punya pekerjaan tidak ada masalah, mau banget deh bergabung.



Blog EntryApr 17, '11 10:44 PM
for everyone
Dari banyak hal yang bisa dilakukan di akhir pekan, aku paling doyan untuk diam di rumah, nonton televisi dan tidur. Cukup bahkan mungkin tidur yang berlebihan. Itu lebih baik.

Akhir pekan ini adalah campuran antara bekerja dan bersenang-senang. Aku menghabiskan beberapa jam di hari Sabtu dan Minggu untuk membereskan urusan kantor. Bukan sesuatu yang aku pilih dengan senang hati, tapi toh dilakukan tanpa beban juga sih.


Sebagian besar waktu di luar urusan kerja itu, aku masih bisa menyalurkan hobi akhir pekan untuk bermalas-malasan. Seperti biasa, berakhir dengan perasaan menyesal.

Bagaimana tidak menyesal, menjelang akhir pekan, otak aku sudah penuh dengan hal-hal yang bisa dan harus dilakukan di akhir pekan. Membereskan rumah adalah salah satu yang rutin ada di daftar tunggu. Aku gilir sih. Ruang tengah, lemari pakaian, dapur dan kamar mandi. Tempat tinggalku toh tidak besar, tapi karena ini bebersih akhir pekan, aku butuh waktu yang lebih lama. Jadi, aku melakukan jadwal bergilir seperti itu. Dengan catatan, aku tidak sedang malas atau tidak harus ke Bandung. 

Akhir pekan kali ini, selain membereskan dapur dan kulkas, aku merapihkan kotak perkakas dan tumpukan DVD. Tepatnya, memisahkan DVD film horor itu, membungkusnya dengan kertas HVS, memberi tanda dan memastikan aku tidak perlu melihat sampul DVD itu pada malam-malam di depan.

Dari banyak hal yang ingin aku lakukan di akhir pekan, ada satu yang sudah 2 bulan terakhir tidak berhasil aku lakukan. Berjalan keluar rumah barang 5 menit untuk mengunjungi gym terdekat. Lari atau berenang barang satu atau dua jam *mengambil napas super panjang*. Ini sudah menjadi semacam cita-cita di atas langit saking tidak pernah terwujud! Kalau hari kerja ada berbagai macam alasan untuk menghindari gym, tetapi di hari libur kok ya malah lebih banyak lagi alasan untuk itu.

Aku sendiri tidak habis pikir, sampai beberapa waktu yang lalu, aku merasakan kebutuhan luar biasa untuk selalu bergerak. Aku bahkan pernah menghabiskan waktu istirahat makan siangku untuk melakukan cardio barang 40 menit dan kemudian makan siang di depan komputer sambil bekerja. Tiga kali seminggu, aku harus pergi sebelum jam 6 pagi untuk bisa memulai latihan sebelum ke kantor. Sekarang, di saat gym hanya 5 menit dari rumah, aku seperti punya 1001 alasan untuk menghindarinya.

Saat ini, sudah hampir jam 8 malam. Sebetulnya aku masih bisa olahraga barang sejam disana. Tinggal ganti pakaian, berjalan kaki barang 5-10 menit dan sebelum jam 10 aku sudah selesai berolahraga dan tiba di rumah. Tapi *mengambil napas super panjang kedua* aku malah ada disini, menulis blog, sambil membereskan pekerjaan kantor yang akan dibahas besok siang (alasan ya)*. 

Ah, 48 jam di akhir pekan memang tidak pernah cukup untuk segudang impian. Paling pas buat bermalas-malasan. Bayangkan kalau saja jam bisa berjalan sedikit lebih lambat pada hari Sabtu dan Minggu. Atau, mau temani aku untuk berenang malam ini?



*halaman FB juga terbuka loh





I was burned but I call it a lesson learned
mistake overturned, so I call it a lesson learned
my soul had returned so I call it a lesson learned
Lagu ini mengingatkanku pada keponakan cantik yang mengingatkanku pada diri sendiri pada waktu seumurnya. Ael. Kami tengah karaoke bersama dan dia memutuskan menyanyikan lagu ini. Suara dia memang bagus sekali. Sore itu, dia membawakan lagu itu dengan penuh rasa. Sedikit membuat jiper, maklum bernyanyi di tempat karaoke tidak identik dengan suara bagus dan teknik cihuy.

Lagu ini adalah lagu yang paling aku putar waktu nyetir. Alasannya tidak jelas. Satu hal saja, aku suka sekali. Itu saja.

Hari ini, aku kembali memutar lagu ini berulang-ulang. Kali ini bukan di dalam mobil tapi di kantor. Untunglah tidak banyak orang tersisa, jadi tidak ada yang protes.

Setiap hari, selalu ada pelajaran berharga. Di hari-hari tertentu, ada ujian khusus yang terjadi begitu saja. Terkadang, aku dapat nilai bagus. Sesekali, aku dapat nilai merah. Kesal sebentar, marah untuk sementara, dan kemudian membuang semua emosi dan tersenyum.


My soul had returned so I call it a lesson learned

Blog EntryApr 13, '11 9:42 PM
for everyone
Perkenalkan, ini keluarga baruku.




Sebetulnya, dibilang keluarga baru tidak terlalu tepat. Aku sudah bersama-sama dengan mereka selama 5 tahun. Setiap keluarga pasti ada anggota yang datang dan pergi, begitu juga dengan keluarga yang satu ini. Awalnya, aku bisa sedikit belagu menjadi satu-satunya perempuan. Setiap hari dikelilingi para pria yang berbagai macam. Eh, jangan berpikir terlalu jauh. Aku tidak tahu banyak macam dari pria-pria itu, hanya apa yang aku lihat ketika kami sama-sama sibuk dengan tugas masing-masing.

Ini adalah komposisi keluarga yang paling baru, lengkap dengan seorang bapak yang sabar menghadapi segerombolan manusia yang beranekaragam kelakuannya. Terlepas dari tingkat senioritas beliau dalam pengetahuan, pengalaman dan usia, bapak ini sangat rendah hati dan tidak sungkan untuk berbagi apapun di dalam keluarga besar ini.

Membangun keluarga ini tidak mudah. Bukan saja proses pencarian yang luar biasa berbelit tetapi juga begitu banyak ketidakpastian yang menyebabkan proses itu tidak bisa berlangsung dengan cepat dan seringkali berbeda dengan harapan awal.

Bersama merekalah, aku menghabiskan sebagian besar waktuku. Selama sembilan atau bahkan sebelas  jam sehari, aku berada dalam satu ruangan bersama mereka semua. Tidak dalam arti harafiah, tetapi ya, setidaknya aku berada di dalam satu gedung. Tata letak ruangan terbaru membuat aku berada terpisah dari keluarga besar ini.

Seperti sebuah keluarga, terkadang aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi bagian dari keluarga ini. Semua terjadi begitu saja. Manis dan pahit ya ditelan saja. Aku beruntung, selama ini aku nyaman sekali berada di tengah keluarga yang satu ini. Bukan berarti aku selalu bersenang-senang dan semua berjalan lancar seperti jalanan ibukota di hari raya. Tidak. Sebaliknya, ada kala aku merasa frutasi, sedih, marah, kesal dan bahkan ingin menyerah. Tapi toh, sebagaimana sebuah keluarga, aku selalu kembali kepada mereka. Pada akhirnya, keluarga ini adalah penopangku untuk menghadapi hari-hari kerjaku. Berada di tengah-tengah keluargaku yang satu ini, aku bisa berkata,"Baiklah, mari kita hadapi bersama."

Nah, kalau di rumah, di keluarga intiku, aku pernah di-setrap berdiri di pojokan ketika aku membuat salah. Berdiri sambil angkat satu kaki. Itulah bedanya dengan keluargaku yang satu ini. Seandainya aku bisa melakukan itu, barangkali lebih seru. Tapi, aku kan bukan orang tua mereka, lagian apa jadinya kalau di kantor ada yang berdiri di sebuah pojokan sambil angkat kaki?

Blog EntryApr 13, '11 4:00 PM
for everyone
Aku sedang ingin centil. Atau, barangkali aku sekedar sedang bosan berat hari itu. Tidak juga, aku sedang kesal dan tidak bisa berpikir terlalu jenih. Maklum, hari Senin. Jadi, aku memutuskan untuk keluar kantor dengan tujuan menangkan diri sambil mencari udara segar. Tanpa tujuan yang pasti, aku berakhir di sebuah salon yang belum pernah aku datangi. Dekorasi bersih berwarna putih tanpa ada pelanggan lain kecuali penjaga meja tamu.

Sejam kemudian, aku mendapat tampilan baru dari sebuah poni pendek yang sekarang menghias mukaku.

Macam-macam komentar orang tentang poni itu. Paling seru sih dari satu kawan satu tim, dia kuatir untuk jalan dengan aku,"takut disangka monyet, Mba", begitu ujarnya. 

Barangkali, aku harus berganti nama menjadi Dora. 

Bisa jadi, tindakan potong poni itu adalah hal kecil yang aku lakukan secara cepat tanpa pikir panjang. Ya, aku merindukan "happy-go-lucky" yang ada di diriku. Aku tidak bisa ingat, kapan terakhir aku melakukan sesuatu yang spontan seperti itu. Ehm, tapi aku ingat kapan terakhir aku belanja secara spontan tanpa pikir panjang. Ha!

Barangkali terlalu berlebihan kalau aku bilang, aku merasa lebih ringan. Memang rambutku beratnya berapa ton, sih? Tapi memang itu perasaanku ketika melihat kaca dan melihat pantulan poni baru.

Ada kalanya, kita harus membuang hal-hal yang begitu melekat di keseharian kita, bukan? Syukur-syukur bisa jadi lebih cihuy.




Blog EntryApr 13, '11 2:53 AM
for everyone
Setelah seharian bekerja adalah kenikmatan luar biasa bisa kembali berada di rumah. 

Sepulang dari kantor, kalau sedang tidak malas, memasak makan malam adalah bagian dari proses menenangkan diri. Well, tidak usah berpikir terlalu jauh tentang kemampuan memasakku. Aku memakan yang aku masak, barangkali itulah yang terpenting.
Kalau sedang malas, televisi  menjadi pilihan. Terutama karena sekarang ini sedang musim American Idol, aku bisa duduk anteng di depan layar kaca jadul merk Chystal yang merupakan televisi lungsuran dari adik ipar. 

Ada satu kebiasaan lain yang tidak lagi rutin aku lakukan. Membaca. Aku terbiasa dan membiasakan diri untuk membaca beberapa halaman menjelang tidur. Saat ini, aku membaca kisah klasik karya Arundathi Roy. Uh, lebih berat dari yang aku bayangkan. Walhasil, aku hanya maju beberapa halaman setiap malamnya. Kalau terlalu lelah, aku memutuskan untuk melupakan buku itu.

Sebetulnya, satu hal yang paling sering aku lakukan adalah bercerita tentang segala sesuatu yang terjadi pada hari itu ke Abang. Cerita itu bisa datang dari hal-hal di kantor, di perjalanan pulang, di internet atau berbagai hal lain yang nyantol di ingatanku hari itu.

Buat aku seringkali waktu tenang menjelang tidur adalah waktu yang berharga. Tidak sekali dua kali, aku menghabiskannya hanya dengan duduk diam di ruang tengah ini, tidak melakukan apapun. Aku membiarkan pikiranku melayang-layang kesana-sini. Bayangkan gelombang air laut yang menghampiri pantai. Itulah yang terjadi. Aku membiarkan pikiranku terhadap segala hal yang terjadi sepanjang hari itu seperti gelombang yang semakin mendekati pantai dan semakin mengecil.

Sebetulnya, ini adalah ritual malam yang cukup aku rindu. Setelah menghadapi berbagai hal sepanjang hari itu, penting bagiku untuk melepas semuanya. Melepas hal-hal yang menjadi beban untuk dihadapi kemudian tetapi mendekap erat hal-hal yang membuat aku tersenyum dan menjadi kekuatan baru untuk menghadapi besok. 

Saat teduh untuk bersyukur atas hari ini.

Seperti saat ini.


Blog EntryApr 5, '11 3:01 PM
for everyone
Sebuah upaya untuk mencapai titik tujuan dimulai dengan sebuah langkah. Bahkan ketika itu sebuah langkah kecil.

Titik tujuan bisa hanya tiga langkah ke depan di sebuah jalan datar yang mulus tetapi juga bisa sebuah titik di ujung tinggi sebuah gunung yang curam yang memberikan pemandangan dahsyat atau sebuah titik tujuan bisa berupa sebuah kawasan yang harus ditempuh dengan berbagai moda dan memakan waktu panjang.

Apapun titik tujuan itu, satu langkah diperlukan untuk memulai. Satu langkah. Kemudian langkah lainnya.

Tidak jarang, ayunan langkah dilakukan secara estafet. Bergantian. Seperti pelari estafet, sebuah tongkat diberikan dari satu pelari ke pelari lainnya. Semua sepakat menuju satu titik akhir yang sama. Keberhasilan itu ditentukan oleh setiap pelari dan setiap langkah yang dilakukan.

Terkadang tugas kita berada di pelari awal. Menjadi langkah pertama untuk memulai rangkaian perjalanan. Sebagian besar kita menjadi pelari tengah, melanjutkan penerus kita dan memastikan tongkat berlanjut. Bisa jadi kita tidak tahu siapa pelari terakhir dan bagaimana kita mengakhirinya

"Damn you", untuk dia yang kemudian memutuskan berhenti melangkah entah karena dirasakan terlalu berat atau karena garis akhir itu tidak terlihat. Ia telah menyia-nyiakan rangkaian langkah yang perlahan tetapi pasti dilakukan oleh pelari lain.

Bahkan satu langkah paling kecil tetap berarti ketimbang berhenti di tengah jalan, tapi terkadang itu resiko berjalan bersama-sama untuk sebuah tujuan yang lebih besar.

-sebuah tulisan lama yang dibuat sebagai hasil obrolan ngalor ngidul di suatu malam, sekitar 1,5 bulan yang lalu, melambai ke Kia-

Blog EntryJan 12, '11 9:52 PM
for everyone
Tahun 2010 betul-betul menjadi sebuah tahun perjalanan yang membawa aku semacam menyelesaikan satu putara. Full Circle. Seperti aku tulis di pertengahan tahun lalu, ini adalah perjalanan reuni panjang yang ternyata terus aku lakukan sampai akhir tahun 2010 dan akhirnya berada di titik yang kurang lebih sama dengan akhir tahun 2009.

Tidak pernah aku berencana terlalu banyak dan secara khusus di 2010 aku lebih tidak berani berencana apapun. Sepakat untuk menikmati saja dan berharap dapat mendapat energi baru yang perlahan menipis. Sungguh sulit buat aku untuk mengumpulkan energi dengan begitu banyak perpindahan tempat dan begitu banyak kegiatan baru yang aku lakukan. Kalau bukan begitu, itu bukan tahun perjalanan ya?

Tahun penuh warna dan aku memang suka itu. Segala sesuatu terasa membosankan kalau hanya satu warna. Biru, hitam, kuning, merah, putih dan warna apapun itu semua hadir di 2010. Terkadang membuat mata sakit karena warna yang terlalu menyengat, terkadang memberi perasaan adem tetapi secara keseluruhan membuat aku lebih baik. Setidaknya, rangkaian warna itu mampu membuat aku punya energi untuk menghadapi 2011.

Aneh sekali.

Barangkali pada akhirnya, di saat semua warna itu berputar dengan cepat, warna putih keluar dengan tegas. Seperti sebuah kertas baru berwarna putih, mari kita warnai tahun yang baru ini.

Blog EntryJul 21, '10 11:55 AM
for everyone
Enam belas tahun lalu, aku bergabung ke dalam satu keluarga besar yang suka bernyanyi atau setidaknya mencintai nyanyian. Aku sebetulnya tidak terlalu sering menghabiskan waktu bersama keluarga tersebut, lebih banyak bermain di tempat lain, tetapi aku tahu bahwa mereka adalah keluarga yang tidak bisa begitu saja aku lepaskan.

Disitu aku belajar banyak, lebih dari sekedar bernyanyi. Aku belajar mengenal berbagai karakter, aku belajar untuk menghargai orang dan banyak sekali kemampuan dan keterampilan yang aku pergunakan di tempat kerja, aku peroleh dari situ.

Keluarga ini terdiri dari berbagai karakter. Terkadang ada karakter ekstrim yang bikin pusing kepala, tetapi lebih banyak karakter menyenangkan dengan "sense of humor" yang begitu menyegarkan. Semua menjadi satu walaupun tidak berarti bahwa semua menjadi satu karakter. Justru setiap orang tetap pada karakter masing-masing tetapi sejalan dengan waktu, kami semua terus bersama dengan segala perbedaan itu.

Bisa jadi itu adalah buah dari berbagai latihan yang kami lakukan. Sebagai bagian dari sebuah paduan suara, tidak ada seorang pun yang menjadi lebih penting dari yang lain. Setiap orang dalam kelompok itu adalah penting. Berbagai suara yang dihasilkan harus menjadi sebuah komposisi yang satu, yang harmoni, yang dapat dinikmati. Seorang yang ingin menonjolkan diri akan membuat seluruh komposisi berantakan. Sebaliknya, seseorang yang tidak mau memberikan kekuatan yang sama pun akan membuat seluruh komposisi berantakan.

Kalau ada istilah sepakat untuk tidak bersepakat barangkali -walaupun tidak sepenuhnya tepat- bisa diterapkan. Bernyanyi dalam sebuah paduan suara bukan berarti semua harus "seragam". Bernyanyi dalam sebuah paduan suara mengajarkan aku untuk tetap menjadi diriku sendiri tetapi juga mengeluarkan yang terbaik sembari melatih mata untuk tetap memperhatikan konduktor dan melatih telingaku untuk juga mendengar suara-suara di sekitarku. 

Tidak  mungkin berlatih tanpa seluruh penyanyi hadir. Tidak bisa menghadirkan kompisisi indah tanpa seluruh penyanyi mengikuti apa yang tertulis. Tidak bisa dinikmati jika seseorang merasa perlu menonjolkan diri atau sebaliknya merasa malas untuk melakukan yang terbaik.

Bekerja sama dalam segala perbedaan untuk menghasilkan sebuah hasil terbaik, melalui latihan terus menerus, mengikuti aturan dan terutama memakai hati untuk merasakan sebuah komposisi.

Itu adalah resep utama yang aku pelajari selama bertahun-tahun dan ternyata itu juga resep penting dalam banyak hal yang aku lakukan selama ini di berbagai kegiatan yang aku lakukan. Tahun ini, aku kembali bekerja bersama keluarga besar ini melakukan sebuah kegiatan yang menjadi ajang belajar terbaik yang pernah aku alami. Aku kembali bergabung untuk mempersiapkan Festival Paduan Suara ITB 2010. Sebuah kegiatan besar dua tahunan yang diselenggarakan oleh keluarga ini. Pertama kali aku mempersiapkan festival ini adalah di tahun 2006 dan saat itu aku harus belajar menjaga keseimbangan antara kegiatan festival, perkuliahan dan pertemanan serta keluarga. Kali ini, aku merasa beruntung untuk kembali bekerja dengan keluarga besar ini, untuk bersama-sama menyelenggarakan kegiatan ini dengan pendekatan berbeda dan tentu saja mudah-mudahan hasil yang jauh lebih baik. Tahun ini ada ambisi besar untuk membuat sebuah kegiatan yang bersifat dan standar internasional karena keyakinan bahwa paduan suara di Indonesia mampu melakukannya dan karena kami yakin, kami mampu melakukannya. 

Festival ini kerja keras banyak pihak. Seperti sebuah paduan suara, pekerjaan ini melibatkan berbagai pihak yang sama sekali tidak seragam. Pihak yang terlibat tidak melulu mereka yang mencintai atau menyukai dunia kepaduansuaraan tetapi keterlibatan mereka diperlukan untuk menciptakan festival ini. Kenapa tidak, tokh kami terbiasa untuk menjadi seragam yang beragam. Dan, sebagaimana bernyanyi dalam paduan suara, keterlibatan setiap orang dalam persiapan festival adalah sama pentingnya. Untunglah, kami terlatih untuk menghargai ini semua.

Hanya tinggal beberapa hari lagi dan seperti biasa semua tekanan mulai makin keras dirasakan. Tetapi aku yakin terhadap kekuatan keluarga ini, bukan saja pada kemampuan bernyanyi dan bekerja tetapi pada keterikatan yang membuat kami satu. Pada akhirnya, sebuah keluarga adalah sebuah keluarga - apapun yang saat itu dihadapi.

Selamat bekerja ya teman-teman.






Blog EntryMay 16, '10 1:12 AM
for everyone
Dudok, Sabtu, 15 Mei 2010.

Aku kembali berada di dalam sebuah kafe yang selalu menjadi favoritku. Dudok. Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat, karena aku kerap menyambangi Dudok di Rotterdam bukan di Den Haag, sebagaimana aku lakukan sekarang.

Aku kembali ke tempat yang telah menjadi rumah kedua bagiku setelah Bandung. Itu juga tidak sepenuhnya tepat, karena rumah keduaku adalah Rotterdam dan kali ini aku berada di Den Haag. Tapi untukku, perbedaan itu terlalu tipis, keduanya selalu punya tempat khusus di hatiku.

Enam bulan terakhir, keseharianku mengalami  berbagai perubahan dalam waktu yang cepat. Sebuah rutinitas yang aku jalani selama tiga tahun terakhir mengalami metamorfosa.  

Jakarta. Bandung. Den Haag.

Dengan dibumbui beberapa drama, aku mengurangi aktivitasku di Jakarta dan lebih banyak menghabiskan waktu di Bandung. Perjalanan Bandung-Jakarta kembali aku lakukan setiap minggu dengan membawa kendaraan sendiri, bersama Papi dan Mami. Tempat tinggal di Jakarta dilepas. dan bersamaan dengan itu kamar di Bandung kembali dipermak sedemikian rupa untuk menjadi tempat tinggal baruku. Jalan Tol Cipularang menjadi menu mingguan. Hari kerja di Jakarta berangsur berkurang menjadi hanya 2 hari seminggu. Jumlah hari kerja di Jakarta yang sama persis dengan hari kerja Papi di Jakarta.

Tidak aku sadari, aku telah menciptakan rumah di Jakarta. Tempat tinggal yang nyaman walaupun sangat mungil. Wilayah jajahan yang sangat diakrabi walaupun terbatas di seputaran Casablanca-Kuningan-Menteng-Thamrin-Cikini. Pertemanan yang lintas umur dan jenis pekerjaan tapi terbukti ampuh mengatasi berbagai sakit kepala yang muncul atas nama pekerjaan. Serta sebuah hubungan yang kembali dibangun setelah menerima berbagai hantaman dan menjadi semakin kuat dan kuat.

Setelah membangun segala kenyamanan itu, aku sekarang melakukan sebuah perjalanan baru menjauh dari itu semua. Dan, itu adalah sesuatu yang (sebetulnya) menyesakan dada.

Aku telah mengambil sebuah keputusan karena sebuah rasa. Kesadaran bahwa seorang anak memang tidak akan pernah bisa memberikan balasan yang cukup bagi orang tua. Keinginanku adalah untuk  menjadikan mereka sebagai prioritas utamaku. Saat ini.

Selama sepuluh tahun terakhir, aku telah diberikan berbagai kesempatan yang sangat aku syukuri. Mulai dari sekolah sampai mengajar, siaran sampai bernyanyi, keliling berbagai tempat, peneliti lepas sampai akhirnya memegang sebuah proyek di lembaga internasional.  Tidak semua aku lakukan dengan nilai sempurna, tapi tidak ada satupun yang aku sesali.

Jadi, kenapa tidak untuk berhenti sejenak (karena memang buat beberapa orang, aku dilihat menyia-nyiakan karirku), dan kembali ke Bandung?

“Berhenti sejenak” adalah sebuah “understatement”. Ketika membuat keputusan ini, aku kuatir aku akan bosan karena tidak ada kerjaan. Ealaa, aku malah kemudian kesulitan bernapas karena hal-hal yang aku lakukan kemudian. Menyelesaikan buku-buku Papi yang tertunda, membangun sebuah usaha baru bersama abang, membantu teman-teman paduan suara mengorganisasi sebuah festival besar, sembari bekerja paruh waktu untuk kampusku mengurusi alumninya yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Selama 3 bulan, aku jalani semuanya dengan senang hati.

Tetapi, perjalanan ini ternyata membawaku kembali lebih jauh. lagi Beribu-ribu kilometer dari kota kelahiranku. Perpindahan ini membawaku kembali ke Belanda. Sebuah kabar menggembirakan datang di pertengahan April dan setelah terkatung-katung menunggu debu vulkanik dari Islandia berhenti, aku tiba.

Dan, disinilah aku. Di Dudok. Dimana aku biasa membeli apple pie mereka yang kondang itu. Aku kerap membawanya sebagai buah tangan atau sekedar aku nikmati sembarimenghabiskan waktu bersama teman-teman ditemani secangkir coklat panas. Sepuluh tahun dan tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Tapi kali ini, aku sendirian, menikmati matahari yang tumben memutuskan untuk muncul sambil mencoba menyelesaikan sebuah tulisan yang harus diberikan besok malam.

Perjalananku ke tempat ini pun merupakan perjalanan reuni. Aku habiskan hari-hariku untuk mengunjungi Dindin-Roos-Rene di Purmerend, Ratna-Nara-Eko di Paris, Mansi-Bram di Den Haag, Alfie di Brussel, Sarah di Rotterdam, dan mudah-mudahan aku masih bisa bertemu Aida, Mia, Hermina-Lovina-Rene, Patsy, Tifa, Claudia dan Nicolette, Pawel, Marc dan bahkan Jolita di Lithuania sana.

Aku pikir, ini adalah sebuah perjalanan reuni bagiku. Perjalanan reuni besar yang dimulai sejak akhir tahun lalu. Sebuah kesempatan untuk balik kanan dan melihat banyak hal yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Mengingatkanku akan hal-hal penting dalam hidupku dan hal-hal penting untuk menjadi aku yang lebih baik lagi. Semacam detoksifikasi dari hidup beritme super cepat yang terjadi dalam tiga tahun terakhir yang berisi begitu banyak hal termasuk barangkali racun-racun yang membuat aku lupa akan hal-hal penting.

Dan terkadang, perlu ambil sebuah keputusan yang membuat kita jauh dari seluruh kenyamanan yang ada – untuk sementara waktu. Untuk memungkinkanku melihat semua dalam jarak yang tepat dan perspektif yang pas. Ini, tidak aku rencanakan tapi juga tidak aku sesali.

Blog EntryJan 24, '10 11:47 PM
for everyone
Abang,
Kali ini, aku melakukannya sesuai dengan permintaanmu.Kamu mau menghabiskan waktu berdua tanpa harus dicekcoki berbagai urusan lain. Hari ini kamu ingin dapat memenuhi egomu untuk bersamaku.

Abang,
Hari ini, kita memperoleh kesempatan untuk melihat sebuah film. Bukan film pilihanmu, tetapi film pilihanku. Kesempatan yang aku lepas karena hari ini, kita melakukan banyak hal sesuai dengan caramu. Kita memang punya selera yang sedikit berbeda urusan film dan musik, tapi tokh kita tetap dapat menikmati film dan musik bersama-sama. Sering kamu mengalah untuk mendengarkan musik pilihanku, dan di lain waktu aku mengalah untuk menikmati musik pilihanmu. Tapi tokh cukup banyak film dan musik yang sama-sama kita sukai, kan? Jadi, tidak perlu membesar-besarkan perbedaan yang ada. Semua dinikmati saja!

Sayang,
Kali ini, ritual tahunan pun aku lakukan dengan caramu. Tidak ada perayaan. Tidak ada keriaan. Tidak ada lilin. Sebagai ganti, di meja terdapat sebuah kue coklat dan secangkir kopi hitam pekat. Kue coklat itu terasa sedikit pahit di bagian tertentu, dan kamu terkejut dengan rasa panas di dalam coklat itu. Hidup pun baru lengkap dengan seluruh rasa pahit dan manis, dan sesekali ada kejutan panas. Semua membuat hidup terasa lebih lengkap, bukan?


Sayang,
Kata orang, pada angka inilah hidup malah baru dimulai. Jadi, tidak salah kalau aku bilang, selamat menempuh hidup baru, kan? Lakukan dengan caramu, untuk menikmati dan menghidupi setiap hari yang akan kamu lalui. Supaya hidup semakin terus bermakna.

Selamat ulang tahun, terimakasih untuk ada dalam hari-hariku.

Blog EntryJan 7, '10 12:12 PM
for everyone
Adalah sebuah tabiat lamaku menyimpan barang dengan pertimbangan "siapa tahu nanti butuh" atau tidak dibuang karena benda tersebut memberi kenangan tertentu - tanpa fungsi yang jelas. Tiket nonton dan kartu tanda kepanitiaan adalah dua hal yang aku kumpulkan dan didokumentasikan di agenda. Post it berisi to-do-list tidak langsung aku buang karena aku merasa membutuhkan bukti rekam tertulis atas hal-hal yang aku kerjakan. Daftar ini bisa sangat panjang!

Ketika aku tinggal di sebuah unit mungil, aku dipaksa untuk bijak dalam membeli dan menyimpan barang. Tidak ada kemewahan ruang yang membuat aku bisa semena-mena menyimpan ini dan itu. Aku mulai menyortir pakaian dan tas yang bertumpuk. Sebagian aku berikan kepada beberapa orang, mereka bisa memakainya atau menjualnya. Tumpukan majalah yang menjadi satu titik lemahku pun aku singkirkan. Hanya majalah yang betul-betul penting - dan itu biasanya berhubungan dengan kondisi sosial politik dan ekonomi bukan fashion  - yang aku simpan. Sisanya, lagi-lagi aku berikan kepada pramubakti kantor. Dia bisa jual majalah itu dengan harga yang lumayan.

Aku bisa dengan santai menuduh kedua orangtuaku yang menurunkan kebiasaan ini. Ketika akhir tahun kemarin aku melakukan pembersihan besar-besaran di rumah orangtuaku, aku menghadapi kesulitan untuk meyakinkan orangtuaku, terutama ayahku untuk menyingkirkan begitu banyak perkakas bekas. Paku-paku. Sekumpulan kunci. Sekrup. Pigura yang setengah rusak. Kumpulan cakram padat dari program komputer jaman kiwari. Semua yang disimpan atas nama "siapa tahu nanti dibutuhkan".

Kenyataan bahwa barang-barang itu dilapisi debu yang super tebal dan bahkan keberadaannya pun lebih sering tidak disadari merupakan sebuah bukti bahwa barang-barang tersebut tidak dipakai. Ketika seseorang butuh paku, dia akan membeli paku baru dan tidak membongkar kaleng-kaleng bekas yang bertumpuk-tumpuk di rak buku.

Proses membersihkan sebuah kamar lama yang kemudian menjadi kamar baruku menghasilkan 5 plastik besar sampah, yang sebagian dibeli oleh tukang pengumpul brangkal dan barang bekas! Hanya untuk satu kamar, loh.

Aku memutuskan melakukan hal yang sama di meja kantorku.Ini adalah posisi dan meja ke-4 yang aku miliki selama bekerja disini. Sebetulnya, aku cukup rutin membersihkan mejaku - terutama ketika ada tenggat waktu sebuah laporan, karena aku butuh sebuah ruang kerja yang rapi dan bersih sebelum memulai kerja besar. Paling tidak, setiap kali pindahan, aku membuang dokumen-dokumen yang tidak lagi dibutuhkan. Tapi tokh, aku masih menghasilkan setumpuk sampah yang cukup besar. Aku tahu sih, sebagian besar sampah kertas itu masih bisa dipakai ulang atau setidaknya dijual.

Aku baru tahu, bahwa apa yang aku lakukan bisa jadi adalah cara untuk "unclutter my life". Membuang tumpukan-tumpukan percecelan (istilahku, aku tidak bisa mendefinisikan kata yang satu ini) dalam hidupku. Melangkah ke depan, tidak hanya butuh perencanaan matang luar biasa dan mimpi besar, tetapi melepas hal-hal yang menghambat kita maju. Terkadang ada perasaaan "sayang" untuk membuang hal yang begitu melekat pada kehidupan kita, tapi tokh tetap harus dilakukan. Kaki kita sulit melangkah ketika ada begitu banyak hal menghambat perjalanan!

Jadi, apakah sebarapa banyak "clutter" yang kamu bawa dari tahun-tahun di belakang?


Oya, ini dia artikel yang aku temukan hari ini: 12 ways to unclutter your life.



Blog EntryDec 31, '09 8:50 PM
for everyone
Aksara. Adiksi. Abang. Acting PM. Assertive. Berenang. Belitung. Botan. Bunga Rampai. Casman. Cinta. Dias. Diving. Endah n Resa. Grand Indonesia. iMac. Jason Mraz. JJF 2009. Lusi. M21. Maling. Maurice. Melsamedia. Papi. Pawel. Phoenam. Pepenero. Teteh. The Apartment. The Girls. Twitter. Yogya.

Dan, saat ini aku berada di penghujung 2009!

Aku tidak pernah bisa menjadi ahli dalam urusan mengucapkan selamat tinggal. Selagi mungkin, aku selalu yakin perpisahan hanyalah sebuah titik untuk menanti perjumpaan selanjutnya. Kecuali untuk yang satu ini. Waktu. Tidak akan pernah kembali.

Selamat tinggal 2009.

Berat sekali untuk melepas 2009. Apa yang terjadi tidak akan kembali. Hanya tersimpan di dalam kenangan dan berharap semua itu tidak mudah tergerus oleh waktu.

Sebuah perjalanan yang banyak merubah diriku.

Di akhir 2009, aku membuat sebuah keputusan besar. Meninggalkan banyak hal yang membesarkan aku. Melepas banyak hal yang merupakan kenyamanan bagiku. Aku mundur dari kehidupan di ibukota dengan teman-teman yang memberikan persahabatan luar biasa dan tim kerja yang membuat aku bisa melakukan banyak hal yang tidak pernah aku bayangkan. Semuanya telah memberikan makna untuk tahun 2009.

Aku sudah membongkar seluruh kotak-kotak yang berisi seluruh barangku dari sebuah unit kecil di apartemen mungil di tengah kota Jakarta. Proses yang tidak mudah, bukan saja karena mengosongkan tempat tinggal yang telah memberi banyak kenangan seringkali terhenti karena keinginan untuk melamun yang tiba-tiba saja muncul. Tetapi seluruh barang sudah tertata rapi di kamar lamaku. Rumah lama yang justru menjadi rumah baru bagiku.

Selamat datang 2010.

Saatnya kembali ke kota kelahiranku, untuk keluargaku.





There is only one thing in my list of resolution that is to write more.
That part of my brain has been idle for too long.

Halilintar 2008
Pertama di 2008
10 hal dari 2006 untuk 2007
Fokus
Tahun Baru





Blog EntryDec 26, '09 2:27 AM
for everyone
Hari ulang tahunNya memang selalu diperingati dengan luar biasa. Musim liburan panjang. Berbagai potongan harga di banyak toko. Pohon natal yang didandani oleh perhiasan gemerlapan. Gereja yang penuh sesak dengan pengunjung tahunan (atau semesteran, karena ada Paskah di semester berikut). Alunan lagu dalam berbagai melodi dan irama. Kunjungan keluarga dan berbagai makanan yang nikmat. Meriah dan gemerlap, layaknya sebuah perayaan besar.

Tetapi, dimana Dia yang kita rayakan hari kelahiranNya itu?
Apakah ada tempat itu, di tengah kesesakan berbagai semangat berpesta?

Hari ini memang hari ulang tahunNya, tapi justru Dia yang memberikan dan tidak meminta hadiah. Dia memberikan diriNya untuk saya dan kamu, tidak melalui kado-kado Natal yang dibeli di saat-saat akhir untuk orang-orang terkasih, tetapi melalui kehadiranNya di dunia ini. Itu hadiah teristimewa yang diberikanNya. Dia tidak perlu ucapan "Semoga panjang umur" karena justru Dia memberi keselamatan itu, kekekalan itu, untuk kamu dan saya.

Selamat Ulang Tahun! Terimakasih karena hari ini, aku diberi kesempatan untuk berpesta karena sukacita atas kehadiranMu di tengah kami. Biarlah aku boleh selalu ingat, untuk merayakannya bersamaMu.


"Jangan takut, karena ini kabar sukacita"

Blog EntryNov 25, '09 12:53 PM
for everyone
Buat aku, musik bisa menghilangkan rasa perih dan sakit. Literally.

Perutku sakit. Badanku meriang. Satu-satunya yang bisa aku bayangkan adalah rumah dan tempat tidur, ditemani dengan sup hangat dan selimut tebal. Sayangnya, jam 6 sore itu aku masih di kantor dan cuaca di luar sangat tidak bersahabat. Aku bahkan sudah memberitahu Dias bahwa aku tidak jadi berangkat dan berkeinginan langsung pulang. Dias mengingatkan aku untuk makan yang hangat-hangat, dan itulah yang pada awalnya mau aku lakukan.

Tapi, tawaran untuk melihat Reunion Concert Impromptu Singers ternyata lebih kuat. Dengan setengah sadar aku masih mengemudikan mobil ke Goethe Haus.

Dan, sebuah keputusan tepat, karena selama tiga jam kemudian aku tidak merasakan sakit apapun, aku malah merasa bahagia sekali.

Impromptu Singers mulai dengan membawakan lagu-lagu rohani. Sejak "Lord Prayer" mengalun, aku merasa begitu tenang, damai dan senang sekali. Rasanya, setiap kata yang keluar menguatkan aku. Bahkan ketika mereka mulai menyanyikan lagu "Kekuatan dan Penghiburan" yang hampir bikin aku menangis.


Buat aku, konser mereka membuat aku merasa sangat terhibur. Bahkan di satu titik, aku sempat malu karena memikirkan pendapat orang lain yang melihat aku terus menerus tersenyum. Tapi, memang aku tidak bisa tidak, selalu tersenyum sepanjang lagu.

Ketika Impromptu Singers membawakan lagu-lagu pop seperti Imagine, Let's Hang On, Le Ragazze dan banyak lagi, aku rasanya sih ingin turun dari kursi dan bergerak mengikuti lagu. Ah, sayang sekali, nonton konser paduan suara itu lebih tertib ketimbang konser jazz atau rock!

Duduk di baris terdepan, di sisi dimana penyanyi Alto dan Tenor lebih sering berdiri, membuat aku lebih bisa mendengar dengan jelas suara dokter cantik yang ternyata bukan hanya gape di ruang klinik tapi juga gape bernyanyi. Suara altonya bener bener bikin sirik. Kok bisa ya, ada orang cantik, pintar, baik hati dan bersuara bagus sekaligus (ha!).

Ini memang konser reuni. Bukan penampilan kompetisi choral music choir. Aku merasakan persahabatan dan kehangatan penampilan Impromptu Singers. Aku bahkan terinfeksi oleh penampilan mereka. Sungguh, aku lupa semua sakit dan memang musik selalu jadi obat terbaik bagi jiwa.


Thank you for the music, the songs I'm singin Thanks for all the joy they're bringin Who can live without it, I ask in all honesty What would life be? Without a song or a dance what are we? So I say thank you for the music For giving it to me




Blog EntryOct 6, '09 5:17 PM
for everyone
Kris, adikku, baru saja membeli kamera digital baru. Barang yang sebetulnya sudah aku incar, terutama sejak kamera tersayang digondol maling beberapa bulan yang lalu.

Beberapa tahun aku berupaya menyisihkan sedikit dari penghasilanku untuk membeli kamera DSLR. Sebelum itu, aku cukup berpuas hati dengan beberapa kesempatan untuk memegang kamera pinjaman. Kamera yang cukup lama ada di tanganku adalah Nikon D70 milik dua orang teman: Mba Okol dan Jimbong. Lama aku berharap salah satu dari mereka akan melepas barang kesayangan mereka itu. No luck *wink, Mba*

Entah bagaimana, di satu hari di Bulan Februari, ada keinginan mendadak yang muncul begitu saja untuk langsung pergi ke BEC dan membelanjakan salah satu pos tabunganku untuk kamera DSLR itu. Aku anggap ini adalah hadiah bagi diriku sendiri. Tidak banyak survey yang aku lakukan. Harga adalah pertimbangan utama. Maklum, aku ini bukan pemotret andal, hanya seseorang yang menyukai potret. Kalau saja potret aku menghasilkan uang, barangkali aku akan lebih gigih menabung.


Aku sempat berbicara dengan beberapa rekan yang aku tahu punya foto-foto yang luar biasa. Dinda, Buyung, Dita adalah tiga diantaranya. Pembicaraan dengan mereka membuat aku cukup percaya diri untuk membeli Canon EOS400D sebagai pendamping kamera pocket aku saat itu, IXUS 75. Aku bertekad untuk pelan-pelan menabung membeli lensa sementara aku harus terus mengasah kemampuan aku memotret dengan lebih baik, lebih tajam dan lebih berbicara.

Sayang sekali, dua kamera itu sama-sama digondol maling. IXUS75 itu hilang di Noi Bai International Airport di Hanoi di pertengahan tahun lalu. EOS400D itu diembat tanpa ijin dari mobil yang tengah diparkir di depan rumah di tengah hari bolong di sebuah akhir pekan di Bulan Juli.

Sekarang, aku harus cukup puas dengan IXUS860IS. Sebuah kamera pocket yang tentu saja jauh dari kesan profesional. Kamera ini selalu aku bawa kemana-mana. Sudah lama memang, aku punya kebiasaan untuk selalu membawa kamera pocket di dalam tas. Bentuknya ringan dan pemakaiannya mudah. Aku bisa merekam banyak hal dari kehidupan sehari-hari aku. Kamera ini juga punya fitur menarik seperti color accent, salah satu menu favorit aku. Layar yang lebar adalah faktor utama mengapa aku membeli kamera ini setahun lalu, layar yang sama besar dengan layar IXUS75.

Kalau membandingkan hasil kamera pocket dengan kamera DSLR, aku sering kesal. Rasanya berbeda. Tapi, dipikir-pikir lebih lanjut, ini adalah tantangan untuk mengasah "rasa" dalam mengambil potret.

Aku tidak pernah belajar komposisi. Untuk yang ini, aku suka dapat bisikan dari Iman. Aku tidak punya pengetahuan mendalam tentang berbagai teknik fotografi dan juga kamera. Beruntung aku mendapat buku menarik dari Kiki tentang ini. Rencana untuk ikut salah satu pelatihan foto jurnalistik itu pun gagal karena keteloderan melihat tenggat waktu pendaftaran. Aku hanya tahu kenikmatan yang diperoleh dari foto-foto itu.

Aku tidak punya kategori foto bagus. Maklum, aku ini pemotret amatir yang hanya berfoto untuk menyenangkan diri sendiri. Tetapi aku tahu, foto-foto mana yang membuat aku bahagia dan foto-foto mana yang sama sekali tidak memberi dampak apapun buat aku. Aku berterimakasih pada para pemotret jempolan itu, sudah memberi kenikmatan visual buat aku.

Kalau kalian kebetulan lihat-lihat foto jepretanku, silahkan kasih komentar supaya aku bisa terus mengasah asa lewat foto. Sementara itu, aku harus cukup puas dengan kamera DSLR pinjaman dari Kris atau Abang sambil menabung untuk bisa beli kamera lagi.

Blog EntrySep 25, '09 1:05 PM
for everyone

Aku besar dengan lagu-lagu Whitney Houston. Maklum, generasi delapan puluhan ini tidak punya banyak pilihan. Saat ini, musik yang aku dengar sangat tergantung pada apa yang diputar di radio. Tidak ada pilihan di televisi yang hanya ada satu, dan pilihan lagu di Aneka Ria Safari itu adalah lagu-lagu semacam pulangkan aku pada orang tuamu.

Semalam gara-gara flu, aku terpaksa mendekam di rumah dan membuat aku membongkar koleksi CD, terutama CD di bagian bawah. Yup, aku memutuskan bermain-main dengan mesin waktu. Aku memilih CD lama, antara lain CD dari Whitney Houston.

Ada banyak lagu-lagu Whitney yang popular. Dari lagu bertempo cepat sampai lagu mellow semua kumplit. Berhubung sudah malam dan sedang setengah tidur-tiduran di sofa, lagu mellow tampak lebih pas.

Dan, ya ampun, ternyata aku masih bisa ingat lirik dari lagu-lagu Whitney!

Aku mulai dengan memasang lagu Saving All My Love For You. Rat, masih inget gak, waktu kita bahas apa sih maksudnya lagu ini, sekitar hmmm, 10 tahun lalu? ;)

Semalam, aku asik ikut bernyanyi lagu-lagu Whitney. Kalau saja aku ada di tempat karaoke, sepertinya aku paling tidak mendapat angka 90!

Buset. Aku betul-betul bisa mengingat. Ternyata otak aku memang punya kapasitas mengingat ya.


***

Beberapa bulan terakhir, aku sering main ke berbagai tempat karaoke. Sebagian besar sih bersama keluarga. Kami biasa pilih macam-macam lagu. Lagu lama sampai lagu terbaru semua bisa dipilih. Aku biasanya paling parah untuk mengingat lirik. Bahkan untuk mengingat lagu-lagu baru yang terkadang pendek dan kata-katanya juga cuman itu-itu saja. Seperti lagu kelompok Kuburan yang berjudul Lupa atau lagu Melly yang hanya berisi kalimat “I love you”.

Di acara makan malam ulang tahun ayahku, aku dan adik-adikku memutuskan menyanyikan sebuah lagu rohani yang sebetulnya lagu yang cukup sering dinyanyikan di gereja. Tapi kami semua tokh lupa lirik lagu tersebut. Untunglah ada teknologi. Blackberry dan google membantu kami dengan lirik lagu tersebut.

Barangkali itu yang menyebabkan otakku sedikit malas mengingat. Hari gini, urusan mengingat lirik adalah hal sepele. Tinggal lihat di internet semua tersedia.

Coba aja 15 sampai 20 tahun lalu, cari lirik lagu itu bisa sampe berjam-jam dan penuh usaha!

Aku masih inget, duduk di sebelah radio atau tape, mencoba mencatat setiap kata dari sebuah lagu. Lebih berat lagi kalau itu lagu berbahasa Inggris. Maklum, disini lidah Indonesia. Bahasa Inggris itu bahasa ketiga atau keempat setelah Bahasa Sunda dan Batak (yuk mariii). Tidak heran, kalimat yang berhasil aku tulis kadang-kadang sangat aneh, biasanya pasti karena aku salah mendengar. Waktu SMA, aku suka tukar-tukaran lirik lagu dengan Lia. Aku punya koleksi lirik lagu yang lumayan banyak. Ditulis dengan cantik, lengkap dengan tulisan warna warni dan gambar-gambar warna warni yang tidak penting.

Ah, rasanya aku bisa lihat semua buku itu. Entah kemana perginya buku-buku itu.

Bisa jadi, karena musti usaha dan juga barangkali karena otakku masih segar dan masih punya kapasitas yang besar, aku bisa mengingat lagu-lagu itu sampai sekarang. Aku juga kaget, kok bisa aku mengingat lagu-lagu ini; the greatest love of all, one moment in time, I have nothing, didn’t we almost have it all. Lagu dengan lirik mendayu-dayu dan beda banget dengan lirik lagu penyanyi perempuan seperti Beyonce yang begitu kuat. Ah, hidup lagu jadul, deh.

***

Ngomong-ngomong, Whitney Houston sekarang dimana sih? Menghapal lirik dan menyanyikannya sih masalah sepele tapi lagu-lagu Whitney itu lagu-lagu besar yang sulit dinyanyikan dengan sukses kecuali oleh penyanyi sekaliber dia. Aku sih cukup puas bernyanyi tingkat rumah deh, hanya untuk kuping sendiri, kalangan super terbatas.

Bagaimana dengan kamu? Apa masih hapal dengan lagu-lagu jadul tahun delapan puluhan yang liriknya panjang dan gombal banget itu?


Blog EntrySep 25, '09 12:57 PM
for everyone

I grew up with Whitney Houston. Well, that is because back in the 80’s I didn’t have much choice on music selection. At least that’s what I felt. I pretty much rely on what’s hot at current radio station. There’s only one television channel, TVRI and it’s pretty much crap especially if I listen to its Aneka Ria Safari.

Staying at home – thanks to this seems-to-be-too-regular flu – I went to my CD collections and decided to play with the time machine. I choose some old CDs. Whitney was among them.

The collection consists of various selections of Whitney Houston songs. She has fabulous track from up beat songs to the slow machine songs. I opted for some cool down, since it was lazy evening and suited my not-too-well condition.

Oh boy! How I still remember them all!!!

My track started with Saving All My Love for You. This song reminded me of Ratna, one of my best friends; just because at one time we had discussion about this particular song, on what exactly this song was about. Last night I sing along with the song just all right. If I was singing in a karaoke, I probably got at least 90 score.

I really can remember. My brain does have memory.


***
These couple of months, I used to visit some karaoke places. Most of the time, it was family get-together. We picked various songs; oldies songs up to the most recent one. I am one of the lousy ones. Really. I can keep lyrics in this very small brain of mine. It is forgivable to forget lyrics from the good old days, but I also can’t keep up with the latest songs, even if those songs consist of one sentence. Just like the song of one group called kuburan: lupa or another song by Melly that only has one sentence “I love you”. How can someone forget those kinds of lyrics?

But I do forget them

Last July, we had this surprise dinner party for our father. The siblings and me decided to sing one gospel song. This is a kind of song that you actually sing in the church on almost weekly basis. There were times when I have this song on i-pod play-list and play it on repeat mode like forever. And, still, I can’t remember the text. So, all of us need a little help from our modern life. Thanks to gadget and internet, we can have our blackberry googled up the text and yes, we sang the song with lyrics on our BB’s LCD.


***
Well, maybe that’s the thing. We got many helps these days. Lyric is a piece of cake when you have internet and google around. It takes just a couple of seconds to get the lyrics.

Fifteen to twenty years ago, it took hours to get the lyrics!

I remember sitting beside my tape recorder, try to catch words of a song. Write down the lyrics. Mind you, English is my third or even fourth language (after some traditional languages, off course). Sometimes the sentences turned out funny because I heard it wrong. Other alternative was to tune in to a radio station that broadcast song lyrics. I stay awake just to be able to write down line by line. During high school, I used to exchange lyrics with friends. Thus, I had quite a collection of lyrics. All nicely written complete with all the glitters and colorful colors.

Oh my. I can see all the books. I don’t’ know where those books are gone!

Maybe because the effort and also –perhaps- the fact that my brain is still young and fresh, I can keep the lyrics of those songs until today. The ability that surprise me. I still amaze how I can sing a long to these songs; greatest love of all, one moment in time, I have nothing, didn’t we almost have it all.

Waw. It’s good to have some memories stay.

By the way, where is Whitney Houston? Now that I am singing some of her hits, I kinda miss her. We all can sing her songs, but no one can do that as Whitney. Big song suit her big vocal. Me? I am satisfied to have my stage in my tiny apartement with no one but me to amuse.